Selasa, 17 April 2018

Iman dan Berhala



Yang imannya paling kuat terhadap Tuhan atau agama, hampir pasti adalah penyembah berhala yang sebenarnya. Mereka hanya sedang menyembah dongeng, mitos, tahayyul, pikiran, prasangka, harapan, angan-angan, ego-hawa nafsunya sendiri akan Tuhan dan kebenaran..., bukan menyembah Tuhan yang esa, esensi kebenaran yang tunggal-universal.


Kencing onta atau batu cincin yang diimani dengan sungguh-sungguh akan lebih berkuasa daripada Tuhan yang maha esa tapi tidak diimani dengan sungguh-sungguh..., kenyang saya mengamati sekaligus membuktikan perkara ini. Kenyataan yang menunjukkan kalau iman tidak punya korelasi apapun dengan kebenaran bahkan menjadi penghalang terbesar kita memahaminya. Iman hanyalah satu cara atau metode kita memfokuskan-menipu-memanipulasi energi-pikiran agar mau mendukung terpenuhinya ego (dangkal) kita. Ujung dari iman (tanpa dasar realitas) adalah placebo, kemabukan, ilusi, delusi dan halusinasi, bukan kesadaran, makrifat, pencerahan, tauhid atau pengesaan Tuhan. Satu-satunya iman yang akan membebaskan kita dari berhala-mengarahkan kita pada tauhid-pengesaan Tuhan hanyalah iman kalau ego atau hawa nafsu harus dikendalikan, iman pada "laku-tarikat"..., bukan diumbar dan dipuja seperti halnya yang terjadi pada banyak orang relijius sekarang.


Jadi ingat dulu, saya bersama teman-teman satu perguruan bermeditasi di sebuah tempat. Setelah beberapa jam bermeditasi, ustad saya kemudian menanyakan satu persatu apa yang kami lihat. Ada yang mengaku melihat tuyul, ular besar dan ada pula yang mengaku tidak melihat apa-apa, termasuk saya. Saya sedih karena jadi merasa tidak berbakat melihat hal-hal ghaib. Tapi kemudian ustad saya menghibur, justru yang tidak melihat apa-apalah yang punya bakat lebih besar mendapat pengetahuan lebih..., tempat ini tidak ada apa-apanya, yang melihat ada apa-apa, tertipu kepercayaan dan angan-angannya sendiri.


Pun demikian juga sebenarnya yang terjadi pada banyak orang relijius sekarang, kebenaran yang mereka "lihat" dan yakini tidak lebih dari fiksi-ilusi-mimpi akibat iman-kepercayaan dan angan-angannya sendiri yang gagal dikendalikannya...

Jumat, 13 April 2018

Imanku dan Imanmu, Apakah Ada Bedanya?



Di seberang jalan depan rumahku, dulu ada sebuah pohon elo raksasa melintang di atas sungai. Saking besarnya, bagian atas pohon elo itu biasa digunakan tempat saya dan teman-teman bermain, sementara bagian bawahnya, bisa digunakan untuk berteduh..., hujan-hujan mancing tetap lancar pokoknya asal mangkalnya di bawah pohon itu. Kalau sungai sedang meluap atau banjir, terjun jumpalitan dari atas pohon ke sungai di bawahnya sungguh nikmat dan menantang.


Pohon itu dikeramatkan, hampir tiap menjelang matahari terbit, ada saja orang menyadap airnya, di hari-hari tertentu bahkan ada orang yang meletakkan sesaji, kembang setaman atau membakar kemenyan di bawahnya. Konon kabarnya, air sadapan dari pohon elo itu bisa menyembuhkan segala penyakit, banyak orang memberi kesaksian soal itu, persis kesaksian dalam iklan klinik Tong Fang, SUSU kuda liar atau jamu tetes NGANU di radio-radio..., "setelah aku minum air sadapan pohon elo itu, mendadak aku bisa berdiri, gak nglentruk lagi"..., begitulah kira-kira contohnya... ^^ Karena semakin banyak saja orang mendatangi pohon itu, akhirnya pohon itu ditebang oleh bapak saya yang relijius, beriman dan bertakwa. Alasannya, pohon itu telah menjadi berhala, sumber kesyirikan, sebagai pemilik, bakal kecipratan dosanya kalau gak segera memusnahkannya.


Bagaimanapun, pohon elo itu mencerminkan bagaimana mekanisme (hampir) semua agama bekerja. Sampai seberapa "benar" iman kita tergantung pada sampai seberapa kuat iman kita, bukan pada sampai seberapa (nyata) benar iman kita itu..., sesuatu yang salahpun akan menjadi "benar" kalau diimani dengan sungguh-sungguh, gitu intinya.


Khasiat air sadapan pohon elo itu jelas FIKSI, tidak benar, tidak ada bukti ilmiahnya, kepercayaan dari orang-orang terhadap pohon elo itulah yang membuatnya jadi berkhasiat, penuh energi..., mampu membukakan pintu alam bawah sadar, tempatnya segala mukjizat termasuk mukjizat penyembuhan.


Penganut agama samawi (Abrahamik) tentu akan mengklaim agama mereka memiliki mekanisme bekerja yang berbeda, tidak sama dengan agama "ndeso" itu..., betul, tapi bedanya cuman dikit kok, mereka hanya memindahkan "pohon elo" itu ke kepala mereka, menjadi tidak berwujud..., sementara yang lainnya, jelas masih sama semua...!.

Rabu, 11 April 2018

Ego dan Jalan Tuhan



Orang yang masih terobsesi dengan amarah, kebencian, ketakutan, prasangka buruk, kekerasan, wanita, kekuasaan, peperangan dan hal-hal egoistik lainnya, hampir pasti belum pernah sekalipun merasakan petunjuk atau kehadiran Tuhan dalam hidupnya biarpun mereka sangat keras mengklaim ada di jalannya. Paling tinggi mereka hanya akan pernah berdelusi atau berhalusinasi tentang Tuhan..., mendapat petunjuk dari ego-hawa nafsunya sendiri (yang menyamar sebagai Tuhan). Sekali kita pernah mendapat petunjuk (benar), kita akan tahu "jalan", tidak akan ngawur bawar, terlalu banyak berspekulasi dan berkhayal dalam mempersepsikan agama, Tuhan dan dunia.


Lawan Tuhan adalah setan. Secara spiritual, sulit untuk tidak menafsirkan Tuhan sebagai hati-nurani-kesadaran-pengetahuan-kekuatan lebih tinggi kita dan setan sebagai ego-naluri-hawa nafsu kita. Tidak mungkin "suara" Tuhan akan terdengar jika kita masih menjadikan ego-hawa nafsu-setan sebagai "wirid", "ibadah", "tarikat" atau bahkan "sesembahan" kita. Hanya kesabaran, kejujuran, keikhlasan, kuzuhudan, ketenangan, keheningan, cinta kasih dan hal-hal non-egoistik lain yang membuat kita akhirnya mampu mendengarnya. Bagi orang-orang lemah, bodoh dan egois, jelas akan sangat berat menjalani "laku" itu, mereka tidak akan tertarik, kalaupun tertarik, tidak akan mampu mewujudkannya. Mereka akan lebih memilih cara instant..., yang dangkal, simbolis, seremonial, yang hanya lahir saja seperti berjenggot, berjubah, membaca kitab suci, muni akhi-ukhti, bikin partai agama atau bahkan kawin, memfitnah, mencaci, menghasut, mengamuk dan membunuh. Tragis sekali, cuman modal itu mereka berani berkhayal-menghibur diri-beronani telah ada di jalan Tuhan. Itu jelas sama dengan mereka yang berkhayal akan menjadi kaya hanya dengan modal jimat dan mantra..., atau seperti saya yang serba ALA kadarnya ini (pernah) berkhayal njiwit pipine wong manis KAE...  ^^


Kebijakan Tuhan tidak boleh dipertanyakan apalagi diprotes, cukup diikuti saja, bantah wong-wong relijius KAE..., toyib..., Tuhan anda memang maha asyik, pandai memahami selera pasar, membuat anda jadi efektif dan efisien, seumpama sambil menyelam minum air..., sambil mengumbar hawa nafsu, anda bisa dapat surga...! :D

Sabtu, 07 April 2018

Menguasai Obsesi, Mencegah Delusi-Halusinasi



Apakah jika anda bermimpi atau berhalusinasi didatangi malaikat atau Tuhan, memberikan wahyu sekaligus menunjuk anda menjadi Nabi baru, anda akan percaya...?.


Pasti sulit untuk tidak percaya apalagi jika keinginan, obsesi atau ego terbesar anda memang adalah menjadi Nabi. Lihat tuh jaman dulu terutama di Timur Tengah, banyak sekali orang yang percaya mimpi-halusinasinya sendiri sebagai kebenaran ditandai dengan banyaknya orang yang dengan pedenya mengaku-ngaku dirinya Nabi atau utusan Tuhan. Ego-obsesi kita akan segera mengambil alih, melumpuhkan daya nalar bahkan nurani kita, membuat hidup kita jatuh dalam angan-angan yang terasa nyata. Perlu latihan keras atau pengalaman panjang dan dramatis untuk kita bisa menyadari-mengikhlaskan kalau kita hanya sedang bermimpi-berhalusinasi saat mimpi-halusinasi itu datang.


Saya dulu sering bermimpi, berdelusi dan berhalusinasi wong KAE masih sayang kepadaku, datang ke rumahku, yang-yangan denganku, menikah denganku, menjiwit pipinya, membelai pinggulnya, menganu nganunya... ^^ Tapi karena seringnya saya dibohongi mimpi dan halusinasi saya itu, akhirnya setiap mimpi dan halusinasi itu kembali datang, saya "protes", saya jadi sadar saya cuman sedang bermimpi-berhalusinasi, saya bahkan jadi bisa mengontrol mimpi-halusinasi saya itu, bisa mengamati dan menikmatinya tapi tidak hanyut-terkuasai alur-ceritanya.


Tidak bisa tidak, kita harus punya standar nalar, moral, nurani yang tinggi serta ego-obsesi pribadi yang rendah agar kita tidak hanyut-jatuh dalam pesona delusi-halusinasi yang menjerat saat kita menjalani "laku" relijius-spiritual. Orang berdelusi-berhalusinasi hakikatnya orang yang sedang gila, tidak waras, sedang mengalami kekacauan bahkan kerusakan fisik-fungsi otaknya, ironis kalau mereka justru dipuja-puja, dikira orang sakti, orang suci, utusan Tuhan, titisan Dewa atau yang lainnya.


Kebaikan atau kemaslahatan yang dibangun dari dogma, dari dongeng, mitos atau tahayyul, dari mimpi-delusi-imajinasi-halusinasi dan hal-hal tidak bisa terverifikasi lainnya itu lemah dan rapuh, akan membawa dilema-kutukannya sendiri, akan sering memicu mudarat atau keburukan yang jauh lebih besar. Kebaikan itu bukan perkara ghaib yang hanya datang dari sosok-sosok ghaib, nalar dan nurani kita sangat cukup untuk bisa memahami-menangkap-memverifikasi itu...

Kamis, 05 April 2018

Kebenaran, Agama dan Spiritualitas



Apa yang menjadi obsesi dan angan-angan kita di alam-pikiran "sadar", akan menjadi penggoda-pembegal-penjerumus terbesar kita saat menjalani "laku" spiritual, menjadi penghalang kita dari kebenaran.


Jika kita terobsesi dengan wanita, dia akan menjelma menjadi bidadari montok bergeletakan pesam-pesem kedap-kedip ngguya-ngguyu, jogat-joget..., jika kita percaya itu dan mengikuti atau hanyut dalam godaannya-syahwat kita kemudian bangkit, kita akan terlempar dan terhempas, sama seperti terlempar dan terhempasnya kita dari tidur saat mengalami mimpi basah, kita terbegal obsesi kita, gagal menggapai kesadaran yang lebih tinggi. Dimengerti saja kalau banyak orang relijius sekarang merasa melihat 72 bidadari bahenol melambai-lambaikan tangan, memanggil-manggil mereka untuk segera menjamahnya dengan cara mengebom bunuh diri, itulah kutukan dahsyat dari obsesi, iman atau angan-angan yang sesat.


Jika kita terobsesi menjadi Nabi, pasti, kita akhirnya akan "mimpi" bertemu malaikat atau Tuhan, memberi kita wahyu, menunjuk kita menjadi Nabi..., jika kita percaya itu dan kemudian dengan pedenya mengaku-ngaku menjadi Nabi, berusaha menyebarkan ajaran kita, habislah sudah kita..., kita tidak akan bisa menggapai pengetahuan yang lebih tinggi, kita hanya akan mendapat pengetahuan tentang apa-apa yang mendukung terpenuhinya obsesi atau angan-angan kita itu..., ayat-ayat atau ajaran yang kita ciptakanpun tidak akan jauh dari upaya penguatan legitimasi atas "kenabian" kita itu.


Pun jika kita terobsesi dengan kekayaan atau kekuasaan, dia akan mewujud menjadi sosok yang akan memberi kita petunjuk bagaimana memenuhi obsesi kita itu, jika basis moral kita lemah, hampir pasti, dia akan memberi petunjuk yang pada dasarnya menghalalkan segala cara termasuk dengan menjadi kriminal. Pernah mendengar cerita orang jaman dulu mencari kekayaan atau jabatan dengan menumbalkan anak, keluarga atau tetangganya?. Cerita itu benar, kalau kuatnya obsesi akan kekayaan atau kekuasaan kita melebihi kuatnya basis moral kita, seperti itulah petunjuk yang akan kita dapat saat kita menjalani laku spiritual, liar..., wajar saja, berani menumbalkan orang akan berarti ledakan energi emosional-sugestif, membuat kita lebih mampu menggapai apapun yang diinginkan termasuk kekayaan dan kekuasaan. Dimengerti saja mengapa banyak politisi dan orang "soleh" kita sekarang suka menghalalkan segala cara (dengan tetap merasa benar) demi mewujudkan obsesinya..., tanpa sadar, mereka telah terbimbing sekaligus terjerumus alam bawah sadarnya sendiri akibat rendahnya basis-tingkat moral mereka.


Bahkan "laku" spiritual tidak akan membantu-tidak akan membawa kita pada hakikat kebenaran jika kita gagal mengendalikan ego kita. Dia hanya akan menjadi "amplifier" energi, "alat" yang hanya sekedar membantu terwujudnya ego-ego kita. Tiada kebenaran, tiada agama dan spiritualitas tanpa menjadikan pengendalian ego sebagai "laku" utama...