Senin, 22 Juli 2019

Vibrasi dan Hidayah




Tubuh, pikiran, angan-angan, obsesi yang tak terkuasai pada akhirnya-kecilnya akan mewujud menjadi mimpi (kita menganggap itu nyata sampai kita terbangun), besarnya akan mewujud menjadi halusinasi (mimpi yang kita anggap nyata bahkan sampai saat kita terjaga).


Wahyu, wangsit atau apapun namanya bahkan jika isinya adalah sesuatu yang benar, "kemasan" atau pembawanya (seperti malaikat, Tuhan, dewa-dewa, Wali, leluhur dsb) tetaplah hanya merupakan produk tubuh, pikiran, angan-angan, obsesi kita-manusia. Dia ada-hadir karena kita mengimani-mengharapkannya ada, dia adalah cara-perwujudan alam bawah sadar kita, jati diri kita, "sedulur papat lima pancer kita" dalam membantu kita. Sosok yang diimani dialah yang akan "tampak" menghidayahi-merahmati..., hanya orang Kristen yang bisa bertemu Yesus, hanya orang Buddha yang bisa bertemu Buddha, hanya orang Hindhu yang bisa bertemu Krishna..., tapi secara esensi, sebenarnya itu sosok yang sama, hanya "baju"nya saja yang tampak berbeda... ^^ Lantas bagaimana kalau ada orang Islam ketemu Yesus atau orang Kristen dapat hidayah...?. Vibrasi gak bisa dibohongi, itu pasti karena sedari awal orang ITU memang sudah sevibrasi dengan yang ditemuinya atau yang ditemuinya lebih akan membantu terwujudnya apa yang menjadi ego terbesarnya. Contohnya, kalau anda menolak poligami, anda berpeluang lebih besar untuk ketemu Yesus bahkan saat anda beribadah, kalau anda mencintai wayang apapun agama anda, anda lebih berpeluang bertemu dewa-dewa atau menjadi Hindhu..., kalau anda suka kawin cerai, anda cenderung dapat hidayah menjadi apa...?, tahu sendiri lagh! :D


Dilematis sebenarnya-ateis diukur cara apapun itu lebih mungkin untuk benar, tapi karena benarnya itulah justru membuat mereka (para ateis) kesulitan mengakses kekuatan bawah sadarnya yang luar biasa. Sementara yang teis, sekalipun peluang sesatnya lebih besar, tapi nyatanya itulah yang seringkali membuat mereka menjadi lebih baik, lebih kuat, lebih bahagia, lebih mudah mewujudkan keinginan-keinginannya...

Kamis, 30 Mei 2019

Agama, Menguatkan atau Melemahkan?



Orang yang sangat percaya sihir atau santet, melihat ada kembang tercecer di halaman rumahnya saja bisa membuatnya langsung jatuh sakit. Bukan sakit karena disihir atau disantet orang melainkan sakit yang terbentuk karena pikiran, PSIKOSOMATIS, sakit karena mengira ada orang telah menyihir atau menyantetnya..., pasangka yang akhirnya mewujud menjadi realitas.


Cukup sering saya menemui kejadian seperti itu, bahkan saya sendiri pernah menjadi terdakwanya, gara-gara mantanku sakit-sakitan dan PADU terus karo bojone, bapaknya pernah datang kepadaku, dia memelas memintaku untuk mengikhlaskan anaknya hidup dengan yang lain, tidak lagi mengganggu hidupnya. Mengikhlaskan RAIMU, mengganggu matamu..., emangnya saya cowok apaan masih ngarep anakmu yang sudah jadi RONGSOKAN itu..., anakmu disewiyah-wiyah lanange dan jadi sakit-sakitan itu karena sudah gak cantik lagi, suaminya sudah bosan ingin ganti tapi gak punya cukup dalih, bukan karena ulahku SU...!. Prasangka buruk mantanku dan bapaknya terhadapku itu membuat penderitaannya makin bertambah, masalahnya makin rumit, lebih dari yang seharusnya dia tanggung.


Pun demikian dengan orang yang sangat percaya Jokowi itu komunis atau pemimpin zalim, bahkan Jokowi solat, umroh atau berakrab ria dengan rakyatnya saja masih akan dihina dan dicaci maki. Mereka (para pemrasangka-pembenci) itu "sakit" bukan karena melihat fakta-realitas kalau Jokowi itu komunis dan zalim betulan melainkan semata karena prasangka buruk yang terinternalisasi kuat kalau Jokowi itu komunis dan zalim. Prasangka yang akhirnya menjadi pembentuk utama persepsinya, persepsi yang menjatuhkan mereka pada penderitaan, kejahilan bahkan kezaliman.


Agama tanpa laku-kawruh itu hanya akan membentuk manusia-manusia lemah mental-spiritual, nalar-nurani, berhentilah mengira semua agama baik. Agama hanya akan baik jika dia menjadikan "laku-tarikat-tapa brata" sebagai ajaran-ritual utama. Manusia yang lemah mental-spiritual, nalar-nurani itu akan menjadi sangat mudah dimanipulasi, dihipnotis, diprovokasi, disihir dan ujung akhirnya, diperbudak...

Jumat, 24 Mei 2019

Ujung Akhir Pencarian Tuhan



Ujung tertinggi pencarian kita akan Tuhan hanya akan sampai pada diri kita sendiri, jati diri kita, alam semesta ini. Mukjizat, karomah, wahyu, hidayah, berkah atau anugrah-anugrah keilahian lainnya itu tidak datang dari mana-mana-tidak datang dari obyek di luar diri kita, dia datang dari dalam diri kita sendiri..., demikian juga dengan setan, jin, malaikat, dewa-dewa dan sosok-sosok dianggap ghaib lainnya.


Pada saat ujung itu tergapai, kita akan dihadapkan pada 3 pilihan, tetap mengimani Tuhan, menjadi agnostik atau menjadi ateis. Semua pilihan akan menjadi  benar karena pasti didasari argumen yang kuat. Semua pilihan tidak akan menjadi masalah bagi siapapun karena pasti, pilihan yang didasari pengetahuan, hanya akan menyisakan sedikit perbedaan bahkan di antara dua orang yang secara lahir tampak sangat berbeda seperti antara yang teis dan ateis. Jika Buddha Gautama yang tidak mengakui adanya Maha Dewa (Tuhan semesta alam), Yesus yang mengklaim diri sebagai Tuhan dan Jalaluddin Rumi yang bertuhankan Allah bertemu di satu majelis, hampir pasti, tidak akan ada perdebatan apalagi permusuhan diantara mereka. Mereka akan saling menghormati pandangan masing-masing, bisa saja diantara mereka saling meledek tapi pasti dalam suasana penuh canda tawa. Sebab mereka sadar, perbedaan di antara mereka sangatlah kecil, hanya masalah kontek, tuntutan zaman-kondisi masyarakat di mana mereka tinggal, selebihnya, 99% di antara mereka sama.


Masalahnya sekarang, banyak orang relijius menjadikan iman sebagai awal sekaligus ujung akhir keberagamaan mereka-bukannya menjadikannya pintu-laku-tarikat mencari Tuhan. Akibatnya, agama menjadi tetap terkunci sebagai klenik atau tahayyul, tidak membawa pada kawruh atau pengetahuan yang lebih tinggi, yang esensi. Cara beragama seperti itu persis seperti beo yang sangat fasih berdoa atau bersahadat, tetap takkan membuatnya dianggap sebagai sudah beragama. Orang-orang demikian sudah pasti akan terus bermasalah dengan peradaban dan "kemaslahatan", akan gagal mengalirkan diri dengan kehendak Tuhan-alam semesta yang "hidup", berubah dan berkembang.


Tepat sekali kata-kata Sheikh Siti Jenar, "syariat baru berlaku setelah kita memasuki alam kematian." Sebab sebelum ego kita mati, sebelum kita menguasai raga kita, sebelum kita sampai pada jati diri kita, kita sebenarnya masih dalam status tidur, mimpi, mabuk, "bangkai" yang tidak punya kehendak sendiri, hidup hanya bisa mengikuti naluri, angan-angan, ego, bukan didasari pemahaman atas kebenaran. Agama tidak akan banyak membantu-tidak akan membawa pada kebenaran, sama seperti beo yang berdoa sepanjang hari, tidak akan punya nilai apa-apa, tidak akan membuatnya lepas dari statusnya sebagai burung...

Agama dan Hukum Dasar Alam Semesta



Sekte Islam Salafi sebenarnya tidaklah mengajarkan terorisme dan pembrontakan (bughot), tapi mengapa dimanapun Salafi berkembang, di situ terorisme dan pembrontakan juga berkembang...?. Agama Kristen sebenarnya tidak mengajarkan kekerasan, tapi mengapa sejarahnya tetap saja dipenuhi dengan kekerasan...?


Alam bawah sadar kita adalah matematikawan ulung, jujur dan adil, dia akan menumbuhkan, merealitaskan apapun yang dominan-paling banyak ditanamkan di atasnya, tidak peduli itu baik atau buruk, benar atau salah. Tidak ada artinya di satu sisi kita mengklaim cinta damai, toleran, anti kekerasan, anti terorisme atau pembrontakan, tapi di sisi lain kita terus menebar penghakiman kalau kelompok di luar diri kita itu salah, sesat, kafir, zindiq, musyrik, ahlul bid'ah, kuburiyyun dan sebagainya. Itu akan diterjemahkan oleh alam bawah sadar kita sebagai perintah untuk mengubah, menekan, memaksa, menindas dan bahkan membunuh. "Timbunan" perintah itu pada akhirnya akan meledak menjadi tindak kekerasan hanya dengan sedikit pemicu, melibas habis "cinta damai" kita. Toleransi kita atas sesuatu yang dianggap ancaman atau gangguan dari kelompok di luar diri kita akan menjadi sangat rendah. Lihat kerusuhan bernuansa SARA di negri kita beberapa tahun lalu, kelihatannya saja itu dipicu hal yang sangat sepele, namun sebenarnya tidak, itu dipicu prasangka-penghakiman yang sudah ditimbun bertahun-tahun sebelumnya. Apa yang tampak "lahir" sebagai pemicu itu hanya kebetulan saja, jika tidak ada itupun, pada akhirnya kerusuhan akan tetap terjadi.


Cinta damai atau toleran memang mudah diucapkan, tapi sebenarnya itu "laku" yang teramat berat diterapkan. Karena jelas, kita harus berani dan mampu melepas apa-apa yang paling melekat-paling primordial di diri kita terutama suku, ras, bahkan akidah atau doktrin-doktrin utama agama kita, gambarannya, seperti orang Islam disuruh makan babi atau orang Hindhu disuruh makan sapi. Orang-orang yang lemah, tanpa kawruh, tidak akan mungkin mampu melakukan itu, mereka hanya akan menjadikan cinta damai dan toleransi sebagai pemanis bibir, retorika belaka, tanpa jiwa, tanpa punya akar kuat.


Agama-hukum-hukum dasar alam semesta itu sederhana dan pasti, "sapa nandur ngunduh"..., (agama) yang di luar itu sudah tentu hanya dongeng, klenik, tahayyul, hiasan, simbol, derivat, optional..., bolehlah kita mengagumi keindahan atau peran moralnya, tapi tidak untuk menggantikan atau mempertentangkannya dengan agama-hukum dasar dasar alam semesta, mendudukannya sebagai kebenaran mutlak. Kalau dengan beragama malah memicu kita menjadi pemrasangka, penghakim, pemarah, pembenci, pendendam dan hal-hal tak selaras dengan agama-hukum dasar alam semesta lainnya, maka sejatinya kita telah zalim-rugi, mengejar simbol-baju-hiasan mengorbankan esensi, "mburu uceng kelangan deleg"...

Jumat, 17 Mei 2019

Esensi "Ketuhanan Yang Maha Esa"



Banyak orang sering berfikir-mengklaim kalau sila pertama Pancasila itu terinspirasi dari doktrin tauhid, monotheisme, satunya Tuhan. Padahal sebenarnya tidak, itu berasal dari filosofi yang jauh lebih dalam dan tinggi, "Bhinneka Tinggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa"..., sama sekali bukan dimaksudkan untuk mengistimewakan satu agama tertentu (yang bertuhan satu, agama Abrahamik-Samawi), dia hanya sedang mengarahkan kita pada esensi kebenaran-ketuhanan yang satu. Sekelas Eggi Sudjana saja tidak memahami itu sampai-sampai menuduh agama yang bertuhan lebih dari satu itu bertentangan dengan Pancasila.


Sebab memang, bertuhan banyak atau satu itu tidak penting secara esensi..., bertuhan banyakpun kalau disembah dengan kekhusukan dan kepasrahan penuh pada akhirnya akan mengantarkan orang pada esensi ketuhanan yang satu. Sebaliknya, bertuhan satu tapi gambaran tentangnya (sifat dan kehendaknya) dibangun semata hanya dari prasangka, angan-angan, hawa nafsu, dongeng, budaya, dogma, tetap saja, Tuhan itu hanya akan berstatus jimat atau berhala yang dihidupi hanya dari iman dan ritual pemujanya. Nama sama sekali takkan membantu kita membawa pada yang esensi..., tas buatan Cibaduyut tidak akan otomatis menjadi Louis Vuitton hanya karena ditempeli label Louis Vuitton..., walaupun inyonge ndower kewer-kewer ngaku-ngaku TORA SUDIRO toh tetep ae ketok olo tur ndeso, buktine, hingga selapuk ini panggah JOMBLO...! ^^


Tauhid-Ketuhanan Yang Maha Esa bukan milik siapa-siapa, bukan milik agama manapun apalagi hanya milik manhaj KAE..., dia milik mereka yang mau dan mampu berserah diri-mengheningkan diri, mampu menguasai tubuh-indra-ego-hawa nafsunya...